Selasa, 06 Desember 2011

MAKALAH JAMINAN MUTU PENDIDIKAN


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang............................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................... 1
C.     Tujuan............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN
    1. Pengertian Mutu Pendidikan.................................................... 2
    2. Permasalahn Mutu Pendidikan.................................................
    3. Dasar-Dasar Mutu Pendidikan.................................................
    4. Prinsip-Prinsip Mutu Pendidikan..............................................
    5. Jaminan Mutu Pendidikan........................................................
    6. Sekolah Dengan Manajemen  Mutu Total (MMT)...................
    7. Sistem Penjaminan Mutu Di Pergurun Tinggi..........................
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan..................................................................................... 14
B.     Saran............................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA

 









BAB I
PENDAHULUAN

D.    Latar Belakang
Pendidikan yang bermutu, dalam arti menghasilkan lulusan sesuai dengan harapan masyarakat, bain dalam kualitas pribadi, moral, pengetahuan maupun kompetensi kerja menjadi syarat mutlak dalam kehidupan masyarakat global yang terus berkembang saat ini dan yang akan datang. Dalam merealisasikan pendidikan yang bermutu, dituntut penerapan program, mutu yang berfokus pada upaya-upaya penyempurnaan mutu seluruh komponen dan kegiatan pendidikan.
E.     Rumusan Masalah
1)           Bagaimanakah pengertian mutu pendidikan?
2)           Bagaimanakah dasar-dasar mutu pendidikan?
3)           Bagaimanakah prinsip-prinsip mutu pendidikan ?

F.     Tujuan
Adapun tujuan daripada pembelajaran ini adalah agar kita lebih mengetahui tentang bagaimanakah menghasilkan pendidikan yang bemutu dan baik sehingga apa yang  diharapkan bisa tercapai.










BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Mutu Pendidikan

         Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Dalam sekolah mutu, standar mutu ditetapkan untuk setiap rangkaian kerja didalam keseluruhan proses kerja, bila pekerja mencapai standart mutu untuk masing-masing rangkaian kerja, hasil akhirnya adalah sebuah produk bermutu. Saat membicarakan perbaikan mutu pendidikan, sering kali yang dibicarakan adalah perbaikan peringkat kenaikan kelas atau nilai rapor. Dalam sekolah yang bertepi seperti itu, tanggung jawab perbaikan mutu pendidikan lebih banyak ada pada guru. Secara umum para guru terfkus hany pada aspek pendidikan seorang siswa : membantu siswa belajar dan mendapatkan pengetahuan. Bila mutu dimulai sebagai proyek terisolasi di sekolah atau ruang kelas,  dan hal tersebut hamper mempengaruhi keseluruhan mutu pendidikan (Jerome S Arcaro, 2005: 75-76).

         Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walupun demikian, ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan teka-teki. Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan melakukan apa saja untuk bias mendapatkan mutu, terutama jika mutu tersebut sudah menjadi kebiasaan kita. Namun, ironisnya kita hanya bisa menyadari keberadaan mutu tersebu saat mutu hilang. Satu hal yang bias kita yakini adalah mutu merupakan suatu hal yang mebedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Bertolak dari kenyatan tersebut, mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan (Edward Sallis, 2006: 29-30).



  1. PERMASALAHAN MUTU PENDIDIKAN.
         Program mutu sebenarnya berasal dari dunia bisnis. Dalam dunia bisnis, baik yang bersifat produksi maupun jasa, program mutu merupakan program utama sebab kelanggengan dari kemajuan usaha sangat ditentukan oleh mutu sesuai dengan permintaan dan tuntutan pengguna. Permintaan dan tuntutan pengguna terhadap produk dan jasa layanan terus berubah dan berkembang sejalan dengan hal itu, mutu produk dan jasa layanan yang diberikan harus selalu di tingkatkan. Dewasa ini, mutu bukan hanya menjadi masalah dan kepedulian dalam bidang bisnis, melainkan juga dalam bidang-bidang lainnya, seperti pemerintahan, layanan social, pendidikan, bahkan bidang keamanan dan ketertiban sekalipun.
         Banyak masalah mutu dihadapi dalam dunia pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran bimbingan dan latihan guru, serta profesionalisme dan kinerja guru. Mutu-mut tersebut terkait dengan mutu manajerial para pimpinan pendidikan, media, sumber belajar, alat dan bahan latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan. Semua kelamahan mutu dari komponen-komponen pendidikan tersebut berujungh pada rendahnya mutu lulusan.
         Mutu lulusan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti lulusan tidan bisa melanjutkan studi, tidak dapat menyelesaikan studinya pada jenjang yang lenih tinggi, tidak dapat bekerja atau tidak di terima di dunia kerja, diterima bekerja tapi tidak berprestasi, tidak mengikuti perkembangan masyarakat, dan tidak produktif akan menjadi beban masyrakat, menamabh biaya kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, serta memungkikan menjadi wara yang tersisih dari masyarakat (Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2006: 8).

  1. DASAR-DASAR PROGRAM MUTU PENDIDIKAN
         Untuk melaksanakan  program mutu diperlakukan beberapa dasar yang kuat, yaitu sebagai berikut :
  1. Komitmen Pada Perubahan
         pemimpin atau kelompok yang ingin menerapkan program mutu harus memiliki komitmen atau tekad untuk berubah. Pada intinya, peningkatan mutu adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih berbobot.
  1. Pemahanan Yang Jelas Tentang Kondisi Yang Ada
         banyak kegagalan dalam melaksanakan perubahan karena melakukan sesuatu seelum sesuatu itu jelas.
  1. Mempunyai Visi Yang Jelas Terhadap Masa Depan.
         Hendaknya, perubahan yang akan dilakukan berdasarkan visi tentang perkembangan, tantangan, kebutuhan, masalah, dan peluang yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Visi dapat menjadi pedoman yang akan membimbing tim dalam perjalanan pelaksanaan program mutu.
  1. Mempunyai Rencana Yang Jelas.
         Mengacu pada visi, sebuah tim menyusun rencana dengan jelas. Rencana menjadi pegangan dalam proses pelaksanaan program mutu. Rencana harus selalu di up-date sesuia dengan perubahan. Tidak ada program mutu yang terhenti (stagna) dan tidak ada dua program yang identik karena program mutu selalu berdasarkan dan sesuai dengan kondisi lingkungan. Program mutu merefleksikan lingkungan pendidikan dimana pun ia berada (Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2006: 8-9).

  1. PRINSIP-PRINSIP PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
         Mutu merupakan topic penting dalam diskusi tentang pendidikan sekarang ini. Dalam diskusi tersebut boleh jadi muncul gagasan berbeda mengenai mutu sebanyak jumlah sekolah yang ada. Mutu menciptakan lingkungan bagi pendidik, orang tua, pejabat pemerintah, wakil-wakil masyarakat dan pemuka bisnis untuk bekerja sama guna memberikan kepada para siswa sumber-sumber daya yang di butuhkan unuk memenuhi tantangan masyarakat, bisnis dan akademik sekarang dan masa depan.
         Adapun prinsip-prinsip yang perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan di antaranya sebagai berikut :
  1. Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan professional dalam bidang pendidikan. Manajemen mutu pendidikan merupakan alat yang dapat digunakan oleh para professional pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan bangsa kita.
  2. Kesulitan yang dihadapi para professional pendidikan adalah ketidak mampuan mereka dalam menghadapi “kegagalan sistem” yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.
  3. Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan-loncatan. Norma dan kepercayaan lama harus diubah. Sekolah harus belajar bekerja sama dengan sumber-sumber yang terbatas. Para professional pendidikan harus membantu para siswa dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan guna bersaing di dunia global.
  4. Mutu pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf, pengawas dan pimpinan kantor Diknas mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team work, kerja sama, akuntabilitas, dan rekognisi.
  5. Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada perubahan. Jika semua guru dan staf sekolah telah memiliki komitmen pada perubahan, pimpinan dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki efisiensi, produktivitas dan kualitas layanan pendidikan. Guru akan menggunakan pendekatan yang baru atau model-model mengajar, membimbing dan melatih dalam membantu perkembangan siswa. Demikian juga staf administrasi, ia akan menggunakan proses baru dalam menyusun biaya, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan program baru.
  6. Banyak professional di bidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja  yang bersifat global. Ketakutan  terhadap perubahan atau takut melakukan perubahan akan mengakibatkan ketidaktahuan bagaimana mengatasi tuntutan baru (Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2006: 10).
  7. Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalam pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan. Budaya, lingkungan, dan proses kerja tiap organisasi berbeda. Para professional pendidikan harus dibekali oleh program yang khusus dirancang untuk menunjang pendidikan.
  8. Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah system pengukuran. Dengan menggunakan system pengukuran memungkinkan para professional pendidikan dapat memperlihatkan dan mendokumentasikan nilai tambah dari pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan,  baik terhadap siswa, orang tua, maupupn masyarakat.
  9. Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan “program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak dengan program-program singkat (Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, 2006: 11).

  1. JAMINAN MUTU PENDIDIKAN
         Jaminan mutu adalah sebuah cara memproduksi produk yang bebas dari cacat dan kesalahan. Tujuannya, dalam istilah Philip B. Crosby, adalah menciptakan produk tanpa cacat (zero defects). Jaminan mutu adalah pemenuhan spesifikasi produk secara konsisten atau menghasilkan produk yang selalu baik sejak awal (right first time every time). Mutu barang atau jasa yang baik dijamin oleh system, yang dikenal sebagai system jaminan mutu, yang memposisikan secara tepat bagaimana produksi seharusnya berperan sesuai dengan standart. Standart-standart mutu diatur poleh produser-produser yang ada dalam system jaminan mutu (Edward Sallis, 2006: 58)..
Mutu (Kualitas) pendidikan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, dia merupakan hasil dari suatu proses pendidikan, jika suatu proses pendidikan berjalan baik, efektif dan efisien, maka terbuka peluang yang sangat besar memperoleh hasil pendidikan yang bermutu. Mutu pendidikan mempunyai kontinum dari rendah ke tinggi sehingga berkedudukan sebagai suatu variabel, dalam konteks pendidikan sebagai suatu sistem, variabel kualitas pendidikan dapat dipandang sebagai variabel terikat yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kepemimpinan, iklim organisasi, kualifikasi guru, anggaran, kecukupan fasilitas belajar dan sebagainya. Edward Salis (2006 : 30-31) menyatakan :
“ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komunitas lokal, sumberdaya yang melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap pelajar an anak didik, kurikulum yeng memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut”
pernyataan di atas menunjukan banyaknya sumber mutu dalam bidang pendidikan, sumber ini dapat dipandang sebagai faktor pembentuk dari suatu kualitas pendidikan, atau faktor yang mempengaruhi kualitas/mutu pendidikan. Dalam hubungan dengan faktor berpengaruh pada kualitas pendidikan, hasil studi Heyman dan Loxley tahun 1989 (Mintarsih Danumihardja 2004 : 6) menyatakan bahwa factor guru, waktu belajar, manajemen sekolah, sarana fisik dan biaya pendidikan memberikan kontribusi yang berarti terhadap prestasi belajar siswa. Hasil Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan dana untuk penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah menjadi salah satu factor penting untuk dapat memenuhi kualitas dan prestasi belajar, dimana kualitas dan prestasi belajar pada dasarnya mengagambarkan kualitas pendidikan.
Sementara itu Nanang Fatah (2000 : 90) mengemukakan upaya peningkatan mutu dan perluasan pendidikan membutuhkan sekurang-kurangnya tiga factor utama yaitu (1) Kecukupan sumber-sumber pendidikan dalam arti kualitas tenaga kependidikan, biaya dan sarana belajar; (2) Mutu proses belajar mengajar yang mendorong siswa belajar efektif; dan (3) Mutu keluaran dalam bentuk pengetahuan, sikap ketrampilan, dan nilai-nilai. Jadi kecukupan sumber, mutu proses belajar mengajar, dan mutu keluaran akan dapat terpenuhi jika dukungan biaya yang dibutuhkan dan tenaga professional kependidikan dapat disediakan di sekolah, dan semua ini tentu saja memerlukan sumberdaya pendidikan termasuk biaya.

         ada dua pertanyaan fundamental yang perlu di ungkapkan ketika kita berusaha memahami  mutu. Yang pertama adalah, apa produknya? Dan kedua adalah siapakah pelanggannya?
         Apa produk dari pendidikan? Ada beberapa perbedaan pendapat tentang ini. Pelajar atau peserta didik seringkali di anggap sebagai produk dari pendidikan. Dalam pendidikan kita sering mengatakan seolah-olah pelajar adalah hasil dari pendidikan, khusunya dengan merujuk pada penerapan disiplin dan cara bersikap di institusi-institusi tertentu.

  1. SEKOLAH DENGAN MANAJEMEN  MUTU TOTAL (MMT)
         Manajemen total dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk ikatan antara sekolah, dunia bisnis, dan pemerintah. Ikatan tersebut akan memungkinkan para professional di sekolah atau daerah dilengkapi dengan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam pengembangan program mutu.
         Manajemen mutu total merupakan aspek utama dari manajemen total. MMT merupakan metodologi yang mempermudah mengelolah perubahan, membentuk infrastruktur yang lebih fleksibel, cepat merespon pada tuntutan perubahan masyarakat. Visi MMT dipusatkan pada menemukan kebutuhan para pengguna lulusan (customer), persiapan melibatkan masyarakat secara menyeluruh dalam program peningkatan mutu, system dukungan yang memungkinkan guru, staf administrasi dan siswa dalam mengelolah perubahan dan melakukan penyempurnaan yang berkelanjutan dengan tujuan agar produk sekolah menuju arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip sekolah dengan MMT :
1.berfokus pada customer
2.keterlibatan menyeluruh
3.pengukuran
4.pendidikan sebagai system
5.perbaikan yang berkelanjutan

  1. SISTEM PENJAMINAN MUTU DI PERGURUAN TINGGI
                  “Penjaminan mutu pendidikan tinggi di perguruan tinggi adalah proses penerapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan dan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholder (mahasiswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang, serta pihak lain yang berkepentingan) memperoleh kepuasaan”
         Dengan demikian, penjaminan mutu diharapkan dilakukan diseluruh perguruan tinggi dengan memperlihatkan butir-butir mutu yang ditetapkan antara lain : kurikulum program studi, sumber daya manusia, mahasiswa, proses pembelajaran, prasarana dan sarana, suasana akademik, keuangan, penelitian, dan publikasi dan lain-lainnya.
         Ada beberapa tahap proses penjaminan mutu pendidikan diperguruan tinggi  antara lain :
1.      Perguruan tinggi melakukan evaluasi diri untuk mengetahui tantangan dan hambatan yang dihadapi, kemudian melakukan tinjauan terhadap kesesuian visi dan misi dalam menjawab tantangan dan hambatan tersebut, termasuk di dalamnya menetapkan visi dan misi.
2.      Perguruan tinggi mulai melaksanakan penjaminan mutu dengan menerapkan manajemen mutu yang kemudian di ikuti proses evaluasi dan revisi dari standar mutu melalui tolok ukur secara berkelanjutan. Proses yang menjaga agar penjaminan ini secara konsisten dilakukan adalah proses pengawasan dan evaluasi secara internal yaitu di dalam proses tersebut memuat kegiatan audit, asesmen dan evaluasi.kegiatan ini walaupun secara teori dipisah-pisah, namun secara praktis tidak dipisahkan antara satu dengan yang lain.
3.      Penjaminan mutu merupakan pekerjaan rutin yang berkesinambungan dan harus terus menerus dilakukan dan bukan merupakan kegiatan yang bersifat ad hoc. Oleh karenanya, proses pengawasan (monitoring) dan evaluasi perlu diterapkan secara terus menerus penekanan bahwa kegiatan ini bukan mencari-carui kesalahan melainkan untuk melakukan tindakan perbaikan terus menerus (Rinda Hedwig, 2007: 1-3).
























BAB III
PENUTUP

C.    Kesimpulan
               Jaminan mutu adalah sebuah cara memproduksi produk yang bebas dari cacat dan kesalahan. Mutu merupakan topic penting dalam diskusi tentang pendidikan sekarang ini. Dalam diskusi tersebut boleh jadi muncul gagasan berbeda mengenai mutu sebanyak jumlah sekolah yang ada. Mutu menciptakan lingkungan bagi pendidik, orang tua, pejabat pemerintah, wakil-wakil masyarakat dan pemuka bisnis untuk bekerja sama guna memberikan kepada para siswa sumber-sumber daya yang di butuhkan unuk memenuhi tantangan masyarakat, bisnis dan akademik sekarang dan masa depan

D.    Saran
Dengan pembahasan kali ini diharapkan mahasiswa mau untuk lebih meningkatkan pengetahuan mereka sehingga mampu untuk mengelola komponen-komponen sekolah dengan baik guna meningkatkan mutu pendidikam dari pada sekolah tersebut.












DAFTAR PUSTAKA


Arcaro, Jerome S. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-Prinsip Perumusan Dan Tata Langkah  Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Hedwig, Rinda. Sistem Penjaminan Mutu Di Perguruan Tinggi Monitoring Dan Evaluasi Internal. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007
Sukmadinata, Nana Syaodih, Prof. Dr. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah. Bandung: PT Refika Aditama,  2006
Sallies, Edward. Total Quality Management In Education. Jogjakarta: IRCiSoD, 2006.




















JAMINAN MUTU PENDIDIKAN

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Politik Dan Etika Pendidikan



Oleh:
Ahmad Sholihin        D01206168

Dosen:
Drs. Mahmudi





­FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar